SEJARAH PERJUANGAN RAKYAT KERINCI MELAWAN BELANDA 2

HALAMAN 2

Di usia sekitar 23 tahun,, Kasib yang dikenal cerdas memiliki kha risma watak kepemimpinan yang menonjol dan memiliki kelebihan spiritual dipilih menjadi ”Depati“ pemimpin dusun Lolo dengan gelar “Depati Parbo“ sebuah gelar adat tertinggi yang didapat dari gelaran dari pihak ayahnya (Bimbe) dan sejak saat itu resmilah Kasib menyandang gelar pusaka dengan gelar “Depati Parbo”. Kasib dengan Gelar “Depati Parbo” saat itu dipercayakan secara adat untuk memimpin negeri wilayah adat Dusun Lolo, selama pemerintahan ditangannya, kehidupan dan suasana negeri Lolo berkembang pesat, kehidupan masyarakat berjalan harmonis, pemerintahan adat berlangsung tertib dan penuh dengan kedamaian.dalam melaksanakan pemerintahan di dalam negeri Lolo, Depati Parbo dibantu oleh Depati Gento, Depati Kertau Udo, Depati Jajo, Depati Lolo dan Depati Judo.

Suasana kehidupan dusun dusun di alam Kerinci termasuk di dusun Lolo yang damai dengan nuansa yang harmonis mengalami gangguan, saat tiba tiba Pemerintah Belanda yang telah bercokol di daerah Muko muko (Bengkulu) dan di daerah Inderapura ( Minangkabau) mulai membuat masalah dengan penduduk Kerinci. Imprealis Belanda berniat untuk menduduki alam Kerinci yang dikenal pada waktu itu sangat kaya dengan hasil pertanian padi sawah dan tanaman Casiavera dan Kopi dan iklimnya sangat cocok untuk usaha perekebunan teh. Belanda mulai mengatur siasat liciknya dengan memata­matai alam Kerinci, merasa yakin dapat memasuki Alam Kerinci dengan mudah, pemerintah Belanda mengirimkan dua orang utusan masing masing Imam Marusa dan Iman Mahdi untuk menemui sekaligus membujuk para Depati Depati agar menerima Belanda untuk bercokol di Alam Kerinci, dengan mengedepankan akal bulusnya membujuk rakyat Kerinci agar bersedia bekerja sama dengan Belanda membangun alam Kerinci.

Akal licik Belanda telah tercium oleh para depati­depati dan para Hulubalang negeri di seluruh alam Kerinci, kedatangan utusan Belanda tersebut ditanggapi dingin para Depati Depati yang enam, para depati depati dengan tegas menolak ajakan Belanda untuk bekerja sama, bahkan salah satu dari utusan Belanda di eksekusi hingga tewas di daerah Perbatasan antara Lolo dengan Lempur. Dengan kejadian itu, maka dimulailah babak baru perjuangan rakyat di Alam Kerinci,Depati Parbo bersama para Hulu balang dalam negeri se­alam Kerinci mulai waspada dan mempersiapkan diri untuk mengha­ dapi segala ancaman dan kemungkinan buruk yang bakal terjadi.Depati Parbo yang dikenal cerdas dan memiliki mata bathin yang tinggi mulai mengadakan serangkaian pertemuan dengan para Depati. Bersama para Depati di Lempur dibawah pimpinan Depati Agung dilaksanakan musyawarah untuk membangun benteng pertahanan guna mengan­ tisipasi setiap ancaman dan ganguan dari musuh (Belanda) yang ingin mencengkramkan kukunya di persada alam Kerinci yang subur elok dan permai.


Pada pertemuan itu disepakati untuk membangun pertahanan bersama guna mengantispasi penyerangan yang dilakukan oleh pihak penjajah Belanda yang licik yang diprediksi akan memasuki alam kerinci dari arah Muko muko. Para Depati dibawah Komando Panglima Perang Depati Parbo mengintruksikan setiap pria dan perempuan dewasa untuk mengaktifkan ilmu bela diri dan melakukan latihan perang dengan menggunakan pedang dan tombak, khusus bagi kaum wanita mendapat tugas menjadi barisan pengawal negeri dan dusun, para wanita dewasa dilatih menggunakan senjata “sumpit” yang telah diisi Merica (Lada) yang setiap saat dapat di tiupkan ke arah wajah dan bola mata musuh. Depati Parbo sejak melakukan eksekusi terhadap utusan Belanda yakni Iman Marusa, setiap waktu sibuk melakukan koordinasi dan menggalang kekuatan dengan para pemangku adat, Depati dan para Hulubalang negeri se alam Kerinci.


Tanpa mengenal lelah Depati Parbo sibuk mengatur pertahanan di setiap negeri, hampir setiap waktu Depati Parbo hilir mudik menemui para Depati, kemarin pagi berada di daerah hilir, besok atau lusa Depati Parbo telah berada di Kerinci tengah dan Kerinci mudik, siang bertemu dengan Depati di Seleman atau tanjung tanah, malamnya ia sudah berada di Hiang atau di Pulau Tengah atau Jujun, tujuannya tidak lain adalah untuk memperkokoh rasa kekompak­ kan dan rasa kesatuan dan persatuan untuk bersama­sama menghadapi imprealis Belanda yang nekad untuk menjajah bumi alam Kerinci. Dalam berjuang Depati Parbo mendapat dukungan penuh dari semua lapisan  pemerintahan adat dan segenap masyarakat di alam Kerinci,para pejuang dan hulubalang secara bersama­sama saling bahu membahu menghadapi pertempuran demi pertempuran menghadapi Belanda.


Meski telah berjuang dan telah banyak pejuang yang gugur di medan juang, akhirnya dengan akal licik yang didukung oleh alat persenjataan dan amunisi modern, akhirnya Belanda berhasil memasuki alam Kerinci meski dengan cara tidak mudah, karena ratusan prajurit bayaran dan tentara Belanda telah jatuh bergugura dan ratusan pejuang dan mujahid alam Kerinci telah gugur di pangkuan bumi persada Ranouh Alam Kincai”. Bersama­sama rakyat di Alam Kerinci Depati Parbo melakukan perang gerilya dan setiap waktu musuh selalu mengintai, perlawanan dari rakyat terus dilancarkan oleh rakyat di Pulau Tengah, Siulak, Pengasi, Semurup, Hiang, Jujun, Rawang, Pungut, Sungai Penuh, Sanggaran Agung dan hampir disetiap pelosok negeri di alam Kerinci, perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang terinspirasi dan dijiwai oleh semangat juang Depati Parbo Sepak terjang Panglima Perang Depati Parbo selalu diawasi dan di­ matai matai oleh tentara Belanda, beberapa tipu muslihat dan beberapa kali penyerangan yang dilakukan oleh Tentara Belanda semata mata untuk mematahkan perjuangan bahkan dengan tipu muslihat Belanda berupaya untuk menjebak dan menangkap Depati Parbo, namun berkali kali usaha itu sia sia.


Depati Parbo dengan taktiknya yang licin dan strategi gerilya yang jitu mampu mengecohkan tentara Belanda yang berusaha untuk menangkap Depati Parbo berserta para Hulubalang yang setia mengikuti dan mengawasi Depati Parbo yang dikenal berjiwa patriot dan pejuang sejati. Pemerintah kolonial Belanda berpikir, bahwa sebelum Depati Parbo ditangkap dan tewas maka api pemberontakan yang dilakukan oleh Hulubalang Hulubalang dan rakyat di alam Kerinci tidak akan pernah padam. Mulailah upaya penaklukan Depati Parbo oleh pemerintah kolo­ nial Belanda. Saat dilakukan pengejaran dan upaya penangkapan, Depati Parbo melakukan gerilya dan menyingkir di daerah perbukitan sehingga dari kejauhan Depati Parbo bisa menyaksikan kebiadaban Belanda yang melakukan penyerangan dan pembantaian terhadap orang­orang yang tidak berdosa.


Belanda dengan biadab dan keji menyerang secara membabi buta dengan senjata meriam dan senjata modern menyerang warga tak berdosa, Belanda degan keji membakar dusun baru dan meng­ hancurkan benteng benteng pertahanan yang dibangun para pejuang. Dengan raut wajah sedih bercampur marah Depati Parbo berupaya untuk membangun mental pejuang dan rakyat untuk tidak mengenal kata menyerah. Bersama sama para pejuang dan Hulubalang hulubalang tetap melanjutkan perjuangan hingga tetes darah terakhir, secara bergerilya Depati parbo dan para pejuang melanjutkan perjuangan dengan taktis gerilya dan melakukan penyerangan saat Belanda lengah. Dengan politik kotor Devide et Ampera, Belanda melakukan berbagai siasat dan jebakkan untuk menangkap Depati Parb. Suatu saat Belanda pernah membujuk anak angkatnya bernama Jurid untuk menangkap Depati Parbo, namun upaya Belanda ini gagal. Sejak belanda menginjak kaki hingga 2 tahun lebih Belanda belum sepenuhnya me­ nguasai alam Kerinci karena Depati Parbo masih hidup dan memimpin langsung perlawanan.


PERANG RANAH MANJUTO 1903-1906

Pertempuran di kawasan Ranah Manjuto dalam catatan sejarah perjuangan rakyat alam Kerinci dalam menghadapi imprealis Belanda tercatat sebagai awal perjuangan rakyat Kerinci mengangkat senjata dalam menghadapi imprealis Belanda. Pasukan Belanda yang bermar­ kas di Muko­ muko dengan bantuan Belanda yang berada di Indrapura dengan kekuatan 120 orang serdadunya yang dipimpin Kapten Bolmar memasuki kubu kubu pertahanan yang dibangun Belanda sebelah utara Ranah Manjuto. Kabar kedatangan Belanda yang telah memasuki Ranah Manjuto didengar oleh para hulubalang dan tokoh adat di daerah Lempur dan Lolo, dengan semangat anti penjajah para hulubalang yang hanya berjumlah 12 orang berjaga jaga di Renah Manjuto mengintai kedatang­ an serdadu Belanda, Sebelumnya pihak Belanda pernah membangun pilar pilar dan Pos untuk memantau dan bertahan di renah  Manjuto, pilar pilar dan Pos ini telah dihancurkan oleh para pejuang di Lolo dan lempur yang dipimpin oleh Depati Parbo.

Panglima Perang Depati Parbo membuat kesepakatan dengan Depati Agung dari Lempur untuk mempersiapkan para Hulubalang hulubalangnya untuk menghadapi dan melakukan perlawanan hingga tetes darah penghabisan melawan Belanda yang nekad memasuki wilayah Adat Alam Kerinci, Depati Parbo memimpin langsung penye­ rangan menghadapi serdadu Belanda yang jumlahnya tidak berimbang, Belanda mengirimkan 120 serdadu yang dilengkapi dengan persenjataan modern, sementara dilain pihak Depati Parbo hanya memiliki 12 orang Hulubalang tangguh. Perjalanan yang cukup melelahkan melewati hutan belantara yang lebat serta tantangan alam yang keras tidak menyurutkan tekad dan semangat Depati Parbo dan para Hulubalang hulubalangnya, setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan dan menyeberangi Sungai Batang Manjuto pasukan beristirahat dan sebagian mempersiapkan makanan sore, beberapa orang Hulubalang tertidur karena kelelahan, dan tanpa diduga pasukan Belanda telah sampai di lokasi yang sama, melihat kehadiran seratusan serdadu Belanda, para Hulubalang yang telah terkepung oleh pasukan serdadu Belanda melakukan perlawanan yang gigih, 50 orang serdadu Belanda termasuk beberapa orang opsir dan Perwira Belanda tewas mengenaskan bersimbah darah ditikam keris para Hulubalang, 2 orang Hulubalang ikut tewas ditembak pasukan Belanda.


Dalam keadaan kritis dan terdesak Panglima Perang Depati Parbo menunjukkan watak kejuangan yang kental. meski dengan hanya sebilah keris Depati Parbo mampu memukul mundur pasukan Belanda yang telah tercerai­berai menuju Ipuh tempat markas induk pasuk­ kan serdadu Belanda, Depati Parbo yang disebut­sebut memiliki ilmu kebatinan yang tinggi berhasil menewaskan puluhan serdadu Belanda, pertempuran di Renah Manjuto berlangsung selama 3 hari.


Catatan sejarah menyebutkan ada 12 orang anggota pasukan inti Hulubalang yang dipimpin Panglima Perang Depati parbo, para Hulubalang yang terkenal tangguh dan perkasa itu adalah: Depati Agung, M.Judah gelar Depati Santiudo Pamuncak Alam,H.Syukur, Depati Nali Seruan Depati, H.Mesir, H.Ilyas.Mat Pekat. H.Yasin, Seman Gelar Depati Nyato Negaro, dan dua orang hulubalang lainnya yang tewas di medan peperangan di Renah Manjuto hingga saat ini penulis belum memperoleh identitas  nama  hulubalang tersebut. Keberhasilan Depati Parbo dalam memukul mundur pasukan Belanda tersebar luas dikalangaan para hulubalang se­alam Kerinci, nama besar dan keberanian Depati Parbo menjadi sumber inspirasi para hulubalang dan pejuang se­alam Kerinci untuk bersatu berjuang bersama Depati Parbo untuk mengusir Imprealis Belanda.


Para hulubal­ ang menyadari bahwa untuk menghadapi musuh yang jumlahnya besar dengan persenjataan lengkap tidak ada jalan lain kecuali bersatu padu, peristiwa pertempuran di Renah Menjuto merupakan pengalaman yang paling berharga bagi para pejuang untuk melanjutkan pertempuran melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Bagi Belanda kekalahan di RenahMenjuto merupaan tamparan keras yang sangat memalukan, 12 orang hulubalang mampu menewaskan 50 orang Belanda dan mampu memukul mundur 70 orang serdadu Belanda yang bersenjata lengkap. Kekalahan telak ini menbuat pihak Belanda berpikir ulang untuk menerobos benteng pertahanan rakyat dan pejuang alam Kerinci, ternyata tidak mudah bagi Belanda untuk memasuki dan menjajah bumi alam Kerinci. Pengalaman Renah Manjuto kembali dievaluasi, para pemimpin tentara Belanda kembali melakukan perencanaan yang lebih matang dan menyusun kekuataan untuk kembali melanjutkan pertempuran menghadapi para Hulubalang Alam Kerinci yang tungguh.


Sejak pertempuran di Renah Manjuto terjadi, maka selama 4 bulan Belanda melakukan persiapan untuk melakukan penyerangan, Guber­ nur Jenderal Van Meues yang berkedudukan di Batavia, mengirim surat kepada Gubernur J.Valot di Padang. Surat tersebut diteruskan kepada Asisten Residen J.Engel di Painan. Dari Painan surat dari Gu­ bernur Jenderal Van Meues diteruskan kembali oleh J.Engel kepada Komendur H.K.Manupasha di Indrapura, selanjutnya surat tersebut diberikan pula kepada Tuanku Regen Indrapura, bernama Sutan Rusli Gelar Mohamadsyah. Isi surat itu pada intinya adalah agar Tuanku Regen, menganjurkan kepada rakyat Kerinci, terutama kepada para Depati selaku penguasa di daerah atau dusun­dusun itu agar menerima kehadiran bangsa Belanda dengan cara baik baik oleh rakyat Kerinci. 


Belanda dengan taktik bujuk rayu dan tipu muslihat menjanjikan bila Belanda diterima dengan baik oleh penduduk Alam Kerinci, maka hak-hak kesultanan Tuanku Regen akan dikembalikan, bahkan Belanda menjanjikan akan membangun sebuah Istana untuk Sultan Mohamadsyah di Kerinci, bahkan Belanda mengiming­ imingi Tuanku Regen akan memperluas Pemerintahan Sultan meliputi daerah Alam Kerinci sampai ke daerah Bandar Sepuluh, dan semua hasil Negeri dan hutan, laut serta sawah akan diberikan kepada Sultan, serta Belanda juga mengobral Janji akan memberi gaji Sultan sebesar. F.2000,­setiap bulan.


Merasa berhasil memperalat Tuanku Regen, Belanda dengan leluasa melanjutkan perjalanan menuju Sekungkung,kedatangan Belanda disambut kegigihan para pejuang dan rakyat. Akan tetapi perjuangan itu dapat dipatahkan oleh Belanda, serangan selanjutnya diarahkan ke Belui, Kemantan, Koto Lanang dan berakhir di Rawang. Selanjutnya di Hamparan Besar tanah Rawang dijadikan sebagai Markas pertahanan Belanda. Penyerangan dilanjutkan ke Siulak, rakyat Siulak dengan gigih berusaha menghadang ekpansi Belanda, namun mereka kalah senjata.


Di daerah Kerinci bagian Hulu tercatat nama nama pejuang antara lain H.A.Rahman dan H.Mahmud di Kemantan,Haji Sutan Taha Rio Bidi dan Imam berkat dari Belui,Depati Mat Syarif dari Sekungkung. H.M.Yunus, H.Bagindo Sutan Depati Kebalo Sembah.H. Manin Depati Negaro Negeri, Ijung Pajina dan H.Muhamad dari Semurup.


Setelah berhasil melumpuhkan perlawanan rakyat di bagian hulu Kerinci, maka pihak Belanda melanjutkan serangan ke daerah Kerinci Hilir. Di daerah Hiang para depati dan rakyat membuat Benteng Per­ tahanan dari Bambu. Dan di daerah ini pejuang Kerinci di pimpin oleh H.Siam Depati Atur Bumi, sementara H.Sudin pimpinan Hulubalang dari Tanjung Tanah bersama 20 orang pasukan Hulubalang ditugaskan untuk mengintai musuh di sepanjang Sungai Batang Sangkir, sebelum memasuki wilayah Adat Hiang. Belanda dengan menggunakan perahu menyusuri Sungai Batang Sangkir, didaerah ini pertempuran berlangsung dengan sengit, sejumlah korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Na­ mun karena kekuatan tidak seimbang maka pasukan H.Sudin tinggal 12 orang dan terpaksa mundur ke Hiang dan bergabung dengan pasukan H.Siam.


Belanda berhasil menghancurkan dan menembus benteng bambu di Hiang. Demi melihat Benteng behasil dimasuki Belanda maka pasukan H.Siam memilih mundur ke Sanggaran Agung, sementara pa­ sukan Belanda mendapat tambahan serdadu dan persenjataan dari arah Temiai sehingga bisa terus mendesak pejuang yang terus melakukan perlawanan. Pasukan serdadu Belanda berhasil menduduki Sanggaran Agung dan menjadikan Sanggaran Agung sebagai Markas Besarnya untuk wilayah alam Kerinci. Dan dari Sanggaran Agung inilah Belanda mengatur strategi dan berhasil menaklukkan daerah daerah disekeliling Danau Kerinci seperti Tanjung Batu, Pengasi dan Jujun.


PEJUANG WANITA H. FATIMAH SRIKANDI  ALAM KERINCI

Dalam setiap periode perjuangan di setiap daerah selalu muncul sosok tokoh Srikandi yang rela ikut berjuang mengangkat senjata meng­ hadapi musuh. Pada masa perjuangan secara nasional dikenal tokoh pejuang wanita seperti Cut Nyak Dien,Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan di Bumi alam Kerinci pada masa awal perjuangan menghadapi imprealis Belanda juga memiliki sosok srikandi yang rela mengorbankan jiwa dan raga untuk merebut kemerdekaan. Adalah pada tahun 1903, seorang wanita pemberani sepupu Panglima Perang Kerinci Depati Parbo, bernama H.Fatimah yang dengan semangat juang menyala terjun ke medan peperangan.

Dalam pertempuran yang terjadi di dusun Lolo dan Lempur, pasukkan Belanda yang berjumlah 500 orang berangkat menuju negeri Lolo, dan disebuah dusun yang bernama Lolo kecil pasukan Hulubalang yang dipimpin Panglima Perang Depati Parbo dengan taktik gerilya telah menunggu pasukkan Belanda yang bergerak maju menuju negeri Lolo. Pertempuran sengit tidak terelakkan, pasukan cukup berimbang, para pejuang dan penjajah saling berhadapan satu lawan satu, meski diantara pasukkan Belanda terdapat pasukkan bayaran dari bangsa sendiri, sehingga dalam kondisi seperti ini para pejuang tanpa pilih bulu memerangi prajurit Belanda.


Dengan semangat pantang menyerah, Depati Parbo dengan gagah berani mampu menewaskan berlusin lusin pasukkan Belanda dengan tangannya sendiri. Pertempuran di Dusun Lolo kecil berlangsung selama 3 hari siang dan malam. Sengitnya pertempuran memaksa para wanita, orang tua dan anak anak diungsikan ke bukit bukit dalam wilayah kubu pertahanan. Melihat darah para pejuang yang membasahi bumi ranouh alam Kerinci membuat geram seorang wanita asal negeri Lolo, wanita yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Panglima Depati Parbo turun ke medan peperangan dengan menggunakan tangan sendiri. Perempuan pemberani dengan sikap waspada bersenjata tombak dipintu gerbang dusun Lolo mengintai pasukan Belanda,saat memasuki gerbang Lolo. H.Fatimah dengan semangat menyala­nyala, dengan hanya menggunakan senjata tombak menyerang pasukkan Belanda. Keberaniannya tidak sia sia, karena dengan tangannya H.Fatimah mampu menewaskan 4 orang pasukan Belanda, bahkan seorang Perwira Belanda berpangkat  Letnan  berhasil ditewaskannya.


Melihat 4 orang pasukkannya berhasil di tewaskan oleh seorang patriot wanita, membuat pasukkan Belanda menjadi beringas, dengan membabi buta mereka memuntahkan peluru kepada Hj.Fatimah se­ hingga gugur. Hj.Fatimah wafat secara syahid, jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum keluarga di Dusun Lolo. Peristiwa itu membuat pasukan Belanda mendidih, sehingga dengan membabi buta pasukkan Belanda melakukan pembalasan, puluhan rumah rakyat, lumbung padi dan ternak menjadi korban dan dibakar habis oleh pasukan Belanda.


Kondisi yang semakin memanas membuat Depati Parbo terpaksa mengatur siasat, dan atas perintahnya para hulubalang dan pasukkan pejuang mundur ke kubu pertahanan, sementara serdadu Belanda melanjutkan perjalanan menuju arah Lempur. Di sana para pejuang dan hulubalang alam Kerinci dibawah kepemimpinan Depati Agung dengan gagah dan perkasa telah menunggu kedatangan pasukkan Belanda. Namun karena jumlah serdadu Belanda terlalu banyak, dan jika dihadapi satu lawan satu pejuang pasti akan kewalahan, maka Depati Agung memerintahkan pasukkan pejuang untuk mundur dan bertahan dalam  kubu pertahanan.


Belanda mengira pasukkan pejuang alam Kerinci takut menghadapi tentara Belanda, dan mereka tidak menemukan satu orangpun pejuang berada di dalam dusun. Setelah beberapa waktu melepas lelah, akhirnya pasukkan Belanda meninggalkan Dusun Lempur dan balik kanan menuju dusun Pulau tengah sekitar 12­15 Km dari Lempur. Di Pulau tengah keadaan masih siang, para petani dan masyarakat Pulau Tengah saat itu tengah mengerjakan lahan pertanian di sawah. Karena merasa tidak siap menghadapi Belanda yang bersenjata lengkap, warga Pulau Tengah menyelamatkan diri di balik bukit bukit menghindari pertumpahan darah dan pengorbanan yang sia sia.


Demi melihat suasana masyarakat yang kalang kabut, beberapa orang serdadu Belanda mengejek orang Pulau Tengah dengan mengatakan ”Pulau Tengah istri Lolo” artinya tidak jan­ tan seperti orang Lolo. Sindiran itu sangat menyakitkan hati hulubalang hulubalang Pulau Tengah, dalam hati mereka agaknya mengatakan nanti tunggu saatnya tiba kami akan basmi serdadu Belanda.dari Pulau Tengah. Serdadu Belanda melanjutkan perjalanan ke hamparan Rawang, dan menyangka negeri sudah aman, para hulubalang tak sanggup menghadapi Belanda, padahal sesungguhnya para pejuang dipimpin Depati Parbo tengah menyusun strategi dan mengatur siasat untuk melakukan serangan selanjutnya.   BERSAMBUNG KE HALAMAN 3 ...

HALAMAN 2


EmoticonEmoticon